English French Spain Russian Portuguese Japanese Korean Chinese Simplified

18 Juli 2014

Calon Haji Harus Persiapkan Diri

KOTABARU, Suara Karawang- Untuk memberikan bekal pengetahuan dan pemahaman bagi jamaah calon haji sebanyak 56 calon haji yang berasal dari Kecamatan Kotabaru dan Tirtamulya, mengikuti bimbingan manasik haji. Bimbingan yang diselenggaSuara Karawangn oleh Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Karawang itu dilaksanakan di setiap KUA yang tersebar di 30 kecamatan yang ada di Kabupaten Karawang, Kamis (17/7).
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kotabaru, H Ujang Rahmat, meminta agar para calon haji mempersiapkan diri dengan baik. Selain banyak belajar mengenai pengetahuan ibadah haji, para calon haji juga diminta untuk menjaga kesehatannya masing-masing. ''Ya acaranya bimbingan manasik, hari ini pembukaannya, acara akan dilaksanakan selama satu minggu bertempat di Kantor MUI Kotabaru," ujar Ujang.
Pesertanya sebanyak 56 orang terdiri dari dua kecamatan yaitu Kecamatan Kotabaru dan Tirtamulya. Untuk Kotabaru sebanyak 51 orang dan Tirtamulya sebanyak 5 orang. "Mereka pulang pergi, acaranya setiap pukul 13.00 WIB sampai sore hari," ucapnya.
Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Karawang, H. Edy Yusuf HS, S.Ag, MM, menyampaikan, acara manasik tersebut diadakannya di tiap-tiap KUA yang ada di Kabupaten Karawang, meski demikian anggaran yang digunakan adalah dari Kemenag. "Jadi sekitar 30 KUA mengadakan acara tersebut, mudah-mudahan bisa berjalan lancar dan para jemaah haji bisa mengikuti dengan baik," ujarnya.
Jumlah calon haji asal Kabupaten Karawang yang masuk dalam kuota pemberangkatan tahun 2014 ini, adalah sebanyak 1714 orang. "Dengan mengikuti mimbingan tersebut para jemaah calon haji akan lebih mengetahui bagaimana selama proses ibadah haji berlangsung nanti," ujarnya.
Pantauan Suara Karawang, para peserta khusu mengikuti acara di hari pertama tersebut, meski dalam keadaan puasa mereka terlihat semangat dan antusias. (zie)
Baca Selengkapnya → Calon Haji Harus Persiapkan Diri

Geger Ade Swara Ditangkap KPK

KARAWANG, Suara Karawang - Bupati Ade Swara dikabarkan ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (17/7). Sayangnya hingga berita ini ditulis, masih belum jelas siapa saja yang ditangkap terkait dugaan kasus suap yang ditangani lembaga antirasuah tersebut.
Hingga tengah malam tadi, rumah dinas bupati (RDB) terlihat masih riuh. Namun, tak terlihat orang nomor satu di Kabupaten Karawang tersebut. Salah seorang pejabat di lingkungan Pemkab Karawang menyebutkan, Bupati Ade Swara ikut dijemput. "Informasi yang saya dapat, bupati, ada pejabat juga. Katanya ada pihak swasta juga," ujar sumber yang enggan disebutkan identitasnya tersebut.
Informasi yang dihimpun di sekitar rumah dinas bupati, mobil KPK datang ke RDB pukul 19.00 WIB. Saat itu terjadi ketegangan antara anggota LSM dan anggota KPK yang meminta kejelasan kaitan dengan penggeledahan tersebut. Salah satu saksi mata, Awandi Sirodj, KPK tiba dengan menggunakan 3 mobil. "Jadi saat itu saya tanya, ada apa rame-rame begini, ternyata tidak dijawab. Akhirnya saya naik pitam berteriak dan meminta kejelasan seraya mengancam akan menggembok pintu RDB," katanya.
Karena terus berteriak, salah satu anggota KPK pun mendatangi Awandi seraya menjelaskan maksud kedatangannya. Anggota itupun menunjukan kartu anggota kepada Awandi. "Ya betul sekarang sedang ada Operasi Tangkap Tangan (OTT), kami tengah bertugas langsung dari Jakarta," katanya menirukan salah satu anggota KPK yang mengenakan masker.
Pada saat penggeledahan, anggota KPK masuk ke RDB dengan menggunakan 3 mobil. Namun keluar RDB dengan menggunakan 5 mobil. "Saya tidak tahu siapa saja yang di dalam," ujarnya lagi.
Karena tidak berhasil menemui bupati, Suara Karawang mencoba menghubungi istri Bupati Ade Swara, Hj Nurlatifah tadi malam. Sayangnya, meski bernada aktif namun tidak diangkat. Sedangkan informasi internal KPK membenarkan operasi tangkap tangan tersebut berlangsung di Karawang. "Benar, masih operasi," kata Juru Bicara KPK Johan Budi.
Saat dihubungi Radar Karawang, Johan Budi belum mau menjelaskan secara rinci dengan alasan masih menunggu informasi lengkap. "Informasinya di Karawang, tapi kami masih menunggu informasi jelasnya. Kalau sudah jelas nanti kita kabari ya," ujarnya singkat.
Meski begitu, Johan membenarkan ada keluarga bupati yang ditangkap KPK bersama pihak swasta yang seluruhnya berjumlah lima orang. Disebut-sebut, pihak swasta berinisial AS, sementara dari keluarga bupati berinisial N. Sedangkan dari pejabat disebut-sebut berinisial M. Saat ditanya lebih lanjut, Johan tidak membantah kasus tersebut berkaitan dengan perizinan perumahan mewah yang melibatkan lingkaran orang-orang dekat bupati. "Tapi tidak terkait dengan pilpres seperti kabar yang beredar di teman-teman wartawan," ujarnya.
Sumber resmi di KPK lainnya juga belum bisa memberikan penjelasan. Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto saat dihubungi juga tak mau berkomentar. "Pada saat yang tepat akan dijelaskan," singkatnya.
Sementara itu, informasi lainnya yang beredar menyebutkan, penangkapan terhadap Ade Swara dilakukan karena diduga terlibat transasksi suap menyuap terkait izin alih fungsi lahan di wilayah Karawang. Izin alih fungsi lahan tersebut terkait dengan rencana pembangunan sebuah perumahan mewah.
Disebutkan, Ade Swara ditangkap bersama sejumlah orang dalam sebuah operasi yang dilakukan tim KPK sore kemarin. Setelah melakukan penangkapan, tim KPK dikabarkan langsung melakukan penggeledahan di rumah dinas bupati. Pihak swasta dalam kasus transaksi suap menyuap ini dikabarkan perusahaan perumahan ternama.
Selain bupati dan istrinya, dari pihak keluarga Bupati Ade Swara belum ada yang bisa memberikan klarifikasi terkait kasus tersebut. Begitupun Kabag Humas Pemkab Karawang Yasin Nasrudin, saat dihubungi mengaku tidak mengetahui persoalan tersebut. (dem/rk/fah/vid)
Baca Selengkapnya → Geger Ade Swara Ditangkap KPK

Pukat Harimau Masih Digunakan di Perairan Cemarajaya

CIBUAYA,Suara Karawang- Beroperasinya kapal yang menggunakan pukat harimau jelas menjadi persoalan serius yang melanda nelayan di Cemarajaya. Beberapa diantaranya bahkan secara terang-terangan berani masuk ke wilayah perairan Karawang. Instansi terkait dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan maupun Polairut, diminta tak tutup mata dan segera bertindak mengingat kegiatan mereka berpotensi merusak ekosistem dan memberangus keberadaan ikan.
Hal ini diungkapkan, Ottong, salah satu nelayan yang menyesalkan masih adanya kapal pukat harimau di wilayahnya. "Belum lama ini ada beberapa nelayan asal Subang yang tertangkap karena menggunakan alat tangkap pukat harimau. Kejadian seperti itu sering kali terjadi, namun anehnya tidak ada sanksi yang diberikan kepada mereka," kata dia.
Karenanya, dia menyimpulkan, bahwa jika tidak ada ketegasan dari instansi terkait ataupun aparat hukum, maka semakin banyak kapal-kapal terlarang itu beroperasi dan menangkap ikan di laut Karawang. "Jadi kalau tidak ada upaya serius, maka mereka bakal semakin keranjingan datang kemari dan merusak ekosistem di laut. Dia yang untung, kita yang rugi," ketusnya. Pukat harimau sendiri merupakan alat tangkap ikan yang dilarang digunakan oleh nelayan karena dapat menyebabkan kerusakan ekosistem serta biota laut.
Sementara itu pemerhati lingkungan laut dan pesisir, Nana, menyatakan bahwa dirinya sempat mendapat informasi banyaknya kapal pengguna pukat harimau yang berkeliaran di laut Karawang. "Sempat ada bukti visualnya juga, namun kenapa sampai sekarang, baik itu DKP maupun Polairut, terkesan membiarkan aktivitas itu terjadi. Mereka tidak tahu atau tidak mau tahu, saya kurang ngerti. Namun yang jelas, setiap pelanggaran hukum harus ditindas, agar mereka tidak semakin menjadi-jadi,"pinta dia. (fah)
Baca Selengkapnya → Pukat Harimau Masih Digunakan di Perairan Cemarajaya

Petani Cilebar Ramai-ramai Jual Sawah

- Harga Mencapai Rp 700 Juta per Hektare

CILEBAR,Suara Karawang- Rencana pembangunan pelabuhan Cilamaya ternyata membawa dampak signifikan terhadap nilai jual beli tanah di Kecamatan Cilebar. Ini bisa dilihat dari tingginya harga tanah di pesisir utara Karawang. Melihat fenomena ini pun, banyak petani yang menjual sebagian sawahnya kepada para spekulan.
Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, harga sawah di pesisir utara yang sebelumnya Rp 200 juta-300juta per hektare, kini meroket 200 persen hingga menyentuh angka Rp 500-700 juta per hektare. Rencana pelabuhan yang berada di Desa Cilamaya Wetan berdampak kepada daerah penyangga guna mendukung sarana prasarana pendukung pelabuhan seperti areal peti kemas.
Kepala Desa Ciptamargi, Uyat kepada awak media menyatakan, bahwa petani di Cilebar, khususnya yang berdekatan dengan arean pelabuhan berbondong-bondong menjual tanah sawah mereka kepada tuan tanah atau spekulan. "Mereka beramai-ramai menjual sawah mereka kepada orang Jakarta yang mayoritas pengusaha. Sebab tanah mereka kebanyakan memang sudah tidak produktif lagi untuk ditanam," tandasnya.
Dikatakan dia, Kecamatan Cilebar sendiri akan menjadi areal paling terdampak dari pembangunan bandar pelabuhan yang menurut rencana bakal mulai dibangun 2015 mendatang. Menurut kabar yang beredar, Cilebar akan dijadikan lokasi penyangga pelabuhan. "Katanya bakal dijadikan kota penyangga. Makanya ini akan membuat lahan tambak di wilayah ini menjadi incaran para pengusaha. Lagian siapa juga yang tidak mau tanahnya ditawar hingga 2-3 kali lipat dari harga normal," kata dia lagi.
Hal senada pun disampaikan Agus, warga yang memiliki sawah. Ia membenarkan bahwa banyak spekulan yang menawar sawahnya tinggi-tinggi. "Tanah saya hanya satu hektar, tapi sudah ada yang berani nawar Rp 400juta. Siapa yang tidak mau sih, lagian tanah saya juga sudah sering banget kena hama ketika ditanami padi," tutur dia.
Saat ditanya apa profesi yang akan dijalani jika kelak tanahnya dijual. Ia mengaku akan menjadi nelayan. "Kalau dijual, saya akan mencari kerjaan lain bisa buka warung sembako ataupun nelayan," tutup Agus.(fah)
Baca Selengkapnya → Petani Cilebar Ramai-ramai Jual Sawah

Terminal Dengklok Berubah Jadi Pasar

RENGASDENGKLOK,Suara Karawang- Terminal Rengasdengklok yang sejatinya diperuntukan bagi tempat datang dan perginya transportasi umum, justru kini berubah wajah dan berganti menjadi pasar kaget. Para pedagang mengaku senang dan gembira sebab keuntungan yang didapat naik berlipat-lipat. Namun disisi yang lain, kegiatan itu jelas salah peruntukkannya. Camat Rengasdengklok pun angkat tangan seraya menyebut bahwa itu merupakan tanggungjawab Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika.
Kemunculan pasar dadakan ini jelas membawa dampak positif bagi pedagang sekitar. Namun, bagi pedagang yang sudah menetap di pasar tradisional jelas menjadi soal. Asep misalnya, penjaja pakaian ini, mengaku mengalami penurunan omzet sejak pasar dadakan ada di Terminal Rengasdengklok. "Tentu saja, karena dengan demikian pembeli banyak yang datang kesana, karena lokasinya enak dan strategis dipinggir jalan. Keadaan ini membuat pedagang di pasar tradisional seperti kami mengalami penurunan omzet," kata dia mengeluh.
Karenanya, Asep mendesak agar Pemerintah Kecamatan Rengasdengklok bisa bersikap kautan dengan perizinan guna menyelamatkan pedagang tradisional. Apalagi, tak lama lagi lebaran akan segera tiba. "Seharusnya kecamatan mempertimbangkan dampak kemunculan pasar dadakan ini bagi kami pedagang di pasar tradisional. Apalagi ini momentum hari raya, omzet jelas menjadi sangat penting bagi kami,"tandasnya lagi.
Sementara itu Camat Rengasdengklok, Asep Wahyu Suherman, tatkala dikonfirmasi awak media, berkelit bahwa persoalan pasar dadakan di terminal tersebut merupakan kewenangan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika. "Perizinan tempat itu, setahu saya, sudah diberikan oleh Dishubkominfo. Makanya kalau memang sudah memiliki izin, saya pikir tidak jadi soal," kata camat menjawab.(fah)
Baca Selengkapnya → Terminal Dengklok Berubah Jadi Pasar

2 Sekolah di Wanakerja dan Wanajaya akan Direlokasi Setelah Lebaran

TELUKJAMBE BARAT, Suara Karawang - Sekolah Dasar (SD) di Desa Wanakerta dan Wanajaya Kecamatan Telukjambe Barat, akan direlokasi ke Kampung Cikeuting dan Cicadas. Kendati demikian masyaSuara Karawangt tetap berharap relokasi tersebut nantinya tidak menghambat proses belajar siswa.  

"Relokasi akan dilaksanakan setelah lebaran nanti. SD Wanakerta 2 ke Kampung Cikeuting dan SD Wanajaya 3 ke Kampung Cicadas.
Kemaren dari pihak PT Ceres sudah bertanggungjawab untuk membelikan lahan dan pembangunan sekolah di Kampung Cikeuting sekitar 2500 meter persegi," ujar Komite Sekolah SD Wanakerta 2, Nurman.
Nurman menambahkan, proses penggantian serta relokasi SD dengan cara pihak sekolah mencari tanahnya sendiri dan pihak PT hanya bertanggung jawab melakukan pembelian tanah serta pembangunan sekolah tersebut. Pihak komite terus berupaya mencari relokasi tanah dan meminta kepada orang tua untuk melakukan musyarawah terlebih dahulu. "MasyaSuara Karawangt harus menyetujui terlebih dahulu untuk relokasi SD dan membantu dalam relokasi tersebut," ucapnya.
Dia melanjutkan, semenjak proses sengketa lahan, sekolah hanya pernah mendapatkan bantuan dari PT yang ada di sekitar kawasan seperti perehaban dan renovasi sekolah pada tahun 2007. Ke pemda sendiri pihak sekolah sudah lama mengajukan proposal untuk melakukan perehaban serta penambahan lokal kelas baru, akan tetapi sampai sekarang belum ada jawaban. "Saya sampai sekarang belum mendapatkan bantuan dari dinas terkait, banyak murid yang ditumpuk dalam satu kelas seperti kelas 4, 5 serta 6 yang belajar dalam satu ruangan kelas. Sekolah hanya mempunyai 3 lokal kelas serta satu ruangan kantor sehingga ada anak didik yang belajar di luar ruangan kelas," ujarnya.
Menurutnya, sejarah sengketa lahan tersebut dimulai kekurangketelitian orang tua dahulu dalam sistem jual menjual tanah yang tidak mempunyai sertifikat tanah. Sehingga tanah tersebut menjadi masalah seperti sekarang. Komite sekolah dahulu membeli tanah sekitar 2500 meter kemudian dibangun sekolah pada tahun 2002, tanpa membuat surat akta notaris tanah karena dahulu terlalu digampangkan.
Selain itu, keinginan masyaSuara Karawangt relokasi sekolah mempunyai sarana serta prasarana agar dibangunkan 6 lokal kelas untuk belajar, satu ruangan kantor dan fasilitas lainnya seperti perpustakaan. "Saya berharap proses relokasi secepatnya dilaksanakan agar tidak menggangu proses belajar mengajar dan pembangunan saran serta prasarana supaya dapat menampung siswa sekolah," pintanya.
Hal senada diungkapkan Kepala Sekolah Wanakerta 2, Dudu Badrudin, S.Pd. Dia mengatakan, proses pembangunan kelas baru serta perehaban yang diajukan ke Dinas Pendidikan Karawang tidak ada tindak lanjutnya dalam pemberian anggaran. Hal itu dikarenakan status tanah yang menjadi sengketa lahan dengan pihak PT. Sekolah masih bertahan walaupun kekurangan fasilitas dan ruangan kelas sekolah. Proses belajar mengajar dilakukan dengan melakukan penyekatan satu ruangan menjadi dua kelas, meminta kepada dinas terkait untuk membantu sekolah serta relokasi sekolah secepatnya. "Saya siap dipindahkan sekolah kemana saja dengan syarat sekolah mempunyai ruangan kelas yang memadai dan fasilitas lainnya. Jumlah siswa SD Wanakerta 2 pada tahun 2013 ada sekitar 149 orang dan tahun 2014 ada sekitar 155 orang," katanya. (cr3)





Baca Selengkapnya → 2 Sekolah di Wanakerja dan Wanajaya akan Direlokasi Setelah Lebaran

Marching Band Gita Buana akan Pertahankan Piala Bergilir Menpora

TEGALWARU, Suara Karawang - Piala bergilir Menteri Pendidikan dan Olah Raga (Menpora) untuk jenis perlombaan marching band akan kembali diperebutkan pada 10 Nopember mendatang. Saat ini piala tersebut masih berada di SMP PGRI Pangkalan setelah marching band Gita Buana sekolah tersebut menjadi juara sejak 9 Nopember 2013 lalu. 

Kepala Sekolah SMP PGRI Pangkalan, Drs H Ujang Sahro Widodo MPd, saat dikonfirmasi, kemarin, dikantornya menyampaikan, jika dilihat secara psikologi sebenarnya lebih berat mempertahankan ketimban merebut. "Bebannya yang berbeda. Ketika merebutnya dulu kami tanpa beban sekarang kami harus mempertahankannya," ujarnya.
Menurut Ujang saat itu merupakan baru kali pertama mengikuti even kejuaraan nasional memperebutkan piala Menpora. Ternyata diluar dugaan dapat meraih juara pertama. Padahal jika saja dilihat dari peralatan dan asal sekolah pesaing pada waktu itu, yang namanya tingkat nasional jelas jauh lebih canggih. Namun kepala sekolah SMP PGRI ini merasa sangat berbeda ketika saat akan menjelang kembali berlomba.
Menurutnya ada beberapa hal untuk saat ini menjadikan merasa mempunyai beban diantaranya, mempunyai beban untuk mempertahankan piala bergilir tersebut. "Masakan datang ke Jakarta hanya untuk menghantarkan piala bergilir saja, kan tidak lucu, tandas H Ujang. Hingga untuk mempersiapkan menjelang perlombaan tersebut kalaupun masih empat bulan mendatang, kepala sekolah sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Baik menambah peralatan maupun sudah mulai berlatih secara intensif," ucapnya.
Ujang berharap kepada siswanya yang tergabung dalam ekstrakulikuler marching band Gita Buana dapat mengikuti latihan sesuai program secara serius. Kalaupun latihannya sendiri setiap usai sekolah, maka salah satu konsekuensinya bagi siswa yang rumahnya agak jauh, maka setiap pulang sampai dirumahnya setelah magrib atau isya. Hingga selain itupun kepala sekolah ini berharap agar dari para orang tua tersebut senantiasa untuk mendukung dan dapat memakluminya. Dia juga optimis jika saja dukungan ini ada dari semua lapisan masyaSuara Karawangt dan dari semua unsure.
Tak hanya itu untuk dapat mempertahankan agar trophy bergilir tersebut tetap ada di karawang, maka kepala sekolah ini berharap ada perhatiannya dari pemerintah Karawang sendiri. Tentunya kepala SMP PGRI ini berharap pemerintah kabupaten Karawang dapat mendukung baik moril maupun materil. Sebab dari semua perjuangan baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilakukan, akan merasa percuma atau tidak ada artinya jika tidak ada dukungan dari pemerintahannya itu sendiri.
Drs H Lasim Haryadi dari Dewan Pendidikan Karawang yang secara kebetulan sedang melakukan kunjungan di SMP PGRI Pangkalan, ketika diminta pendapatnya mengatakan bangga atas keberhasilan team marching band Gita Buana. Dirinya secara pribadi dan kelembagaan mendukung untuk dapat mempertahankan trophy tersebut. (ark)
Baca Selengkapnya → Marching Band Gita Buana akan Pertahankan Piala Bergilir Menpora

Mesjid Al-Jihad Rawan Kejahatan

*Sudah Saatnya Polisi Bertindak

KARAWANG,Suara Karawang - Aksi kejahatan di lingkungan dan dalam mesjid Al-Jihad sudah bukan kejahatan biasa karena perbuatan orang iseng yang biasa mencuri sendal atau sepatu. Melainkan sudah harus ditanggapi serius pihak kepolisian. Terlebih, mengingat seringnya aksi itu terjadi.

Korban terakhir adalah Ginanjar, warga Jalan Melati RT/RW 10/10, Kelurahan Karawang wetan, Kecamatan Karawang Timur. Tas berisi uang Rp 3,2 juta miliknya lenyap saat dia bersama istrinya shalat di mesjid tersebut. Kepada Suara Karawang, korban menuturkan peristiwa sial yang menimpa dirinya, kemarin (17/7) petang, di rumahnya.
Ketika itu dirinya dan istrinya berniat shalat di Mesjid Al-Jihad. Ginanjar shalat di barisan makmum lelaki sementara istrinya dibarisan makmum perempuan. Saat itu Ginanjar sama sekali tidak menyangka dirinya bakal menjadi korban kejahatan. Terlebih bangunan tempat mereka saat itu berada adalah rumah Allah. Karenanya diapun membiarkan tas berisi uang Rp 3,2 juta ada bersama istrinya.
Tetapi betapa kaget Ginanjar begitu usai shalat dan mendapati istrinya terlihat panik. Ketika ditanya, istrinya mengatakan tas berisi uang milik mereka ternyata sudah lenyap dari tempatnya. "Waktu itu tas saya dibawa istri, dan istri shalat di tempat perempuan. Tas disimpan di belakang istri saya, dan saya shalat di tempat laki-laki. Pas selesai shalat tas saya sudah tidak ada," tutur Ginanjar menuturkan kronologis kejadian.
Setelah tahu tasnya hilang, Ginanjar lantas melapor ke pihak DKM Mesjid Aljihad. Namun ia kaget, ternyata dari keterangan DKM di Mesjid Al-Jihad memang sering terjadi aksi pencurian seperti itu. "Ternyata setelah saya curhat ke saudara saya, banyak juga yang pernah kehilangan uang dan benda seperti laptop, hape dan lain-lain saat shalat di Al-Jihad," tuturnya.
Dengan banyaknya kejadian pencurian di Masjid Aljihad, Ginanjar berharap kepada pihak DKM dan pengurus Islamic Center agar lebih pro aktif dalam mengawasi aktivitas di mesjid kebanggaan warga Karawang tersebut. "Jangan sampai ada korban lain setelah saya. Saya berharap masyaSuara Karawangt juga lebih waspada saat berada di mesjid itu, karena saya menduga di masjid itu ada mafia terorganisir untuk mencuri barang pengunjung," ujarnya.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Suara Karawang di lapangan. Kejadian pencurian memang sering terjadi di sekitar Mesjid Al-Jihad. Bahkan beberapa waktu lalu kamera seorang wartawan dan uang jutaan rupiah juga sempat hilang di area islamic center dan masjid tersebut. (ega)
Baca Selengkapnya → Mesjid Al-Jihad Rawan Kejahatan

Moral Pejabat Harus Dijaga

RENGASDENGKLOK,Suara Karawang- Hebohnya pemberitaan yang menyebutkan adanya perbuatan tidak terpuji yang dilakukan pejabat di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga menyulut reaksi beragam kalangan. Tindakan yang mencoreng nama institusi itu dinilai sudah diluar batas dan memerlukan perhatian serius. Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Karawang, diharapkan gesit dan segera memberikan sanksi agar dapat dijadikan pelajaran bagi pejabat yang lain.
Hilman Tamimi, dari GeSuara Karawangn Mahasiswa Karawang Utara (Gemaku), meminta agar Badan Kepegawaian Daerah (BKD) segera menindak tegas oknum pejabat disdik yang kedapatan melakukan perbuatan tercela di bulan Ramadan. "Sekalipun bukan bulan puasa, jelas tindakan itu merupakan tindakan tidak bermoral serta memalukan institusi pendidikan. Saya pikir BKD harus segera memberikan sanksi,"desak dia.
Perbuatan itu, tandasnya, jelas bertentangan dengan norma maupun kaidah-kaidah kepegawaian. Sehingga, jika tidak diberikan sanksi, bukan tidak mungkin, makin banyak pejabat yang berani melakukan tindakan tercela dan semena-mena. "Kita lihat saja, apakah BKD berani memberikan sanksi. Ini pertaruhan BKD didepan ribuan pegawai. Kalau tidak, BKD hanya jadi macan ompong dan pejabat nakal bisa saja menganggap remeh BKD. Makanya kalau tidak tegas, BKD bisa dilecehkan," katanya berpendapat.
Ia juga menghimbau agar kepada para pejabat yang diberi tanggungjawab posisi dan jabatan dapan menjaganya dengan baik. "Posisi, pangkat dan jabatan itu kan titipan. Amanah yang harus dijalankan sebaiknya. Kalau dari tingkat paling kecil saja sudah berani berkhianat, apalagi nanti jika dia diberi kewenangan lebih besar,"tutupnya. (fah)
Baca Selengkapnya → Moral Pejabat Harus Dijaga

Banggar DPRD Sindir 2 Dinas

KARAWANG, Suara Karawang - Dinas Bina Marga dan Dinas Cipta Karya disindir dalam rapat paripurna DPRD Karawang. Hal itu terkait lemahnya serapan anggaran oleh dinas tersebut.

"Dinas Bina Marga dan Cipta Karya dalam serapan anggaran masih di bawah 30 persen. Karena itu kedua dinas ini diminta agar terus menggenjot serapan anggaran disisa tahun anggaran tahun ini," sindir Ketua Badan Anggaran DPRD Karawang Ade Suhara, dalam rapat paripurna yang dihadiri seluruh OPD pemda Karawang.
Untuk itu, kata Politisi Gerindra ini menegaskan, dengan waktu yang ada hingga akhir tahun ini dirinya meminta agar kepala dinas terkait agar terus meningkatkan kinerjanya. "Itu harus melakukan penekanan kepada OPD terkait," tegas Ade.
Meski harus terus digenjot untuk serapan anggaran ini, dia juga meminta agar kualitas jalan itu tidak dikesampingkan. Sehingga, dengan serapan anggaran tinggi, itu harus dibarengi dengan kualitas jalan yang memadai, dan layak untuk dilalui. "Kita harapkan lebih fokus pada pengerjaan fisik denga target diharapkan akhir tahun iyu  90 persen dengan tanpa mengurangi kualitas," desaknya.
Sementara itu Bupati Karawang Ade Swara mengatakan, meski secara administratif itu baru menginjak 30 persen. Namun menurutnya, saat ini pengerjaan fisik terutama infrastruktur harus terus dilakukan. Bahkan dia mengklaim serapan anggaran untuk kedua dinas yang disindir ini dalam keadaan normal. "Jadi begini, kita bekerja terus, jadi kalau melihat ini dalam posisi normal, pengerjaan ada dimana-mana dan masih terus berjalan," ujar bupati. (vid)
Baca Selengkapnya → Banggar DPRD Sindir 2 Dinas